Native Markets sudah Kuasai Ticker Stablecoin USDH di Hyperliquid

Native Markets resmi menguasai ticker stablecoin USDH di Hyperliquid setelah memenangkan voting komunitas pada Minggu (14/9/2025). Kemenangan ini mengakhiri persaingan ketat dalam penerbitan stablecoin di ekosistem decentralized exchange (DEX) tersebut.

Voting Penentuan USDH

Proses voting ini menjadi tonggak penting bagi tata kelola Hyperliquid. Seluruh mekanisme dilakukan onchain, dengan bobot suara ditentukan oleh jumlah token HYPE yang di-stake. Agar sebuah proposal lolos, setidaknya harus mendapat dukungan dua pertiga dari total stake.

Menurut data USDH Tracker, Native Markets sukses meraih 71,60% voting power dengan dukungan 10 validator dan total stake mencapai 106 juta HYPE. Beberapa validator besar yang berada di barisan pendukung antara lain Nansen x HypurrCollective, Hypurrscanning, infinitefield.xyz, hingga HyperStake.

Sumber: USDH Tracker

Langkah Lanjutan Native Markets

Max Fiege, Founder Native Markets, menjelaskan lewat postingan di X bahwa proyek ini akan menjadi pelaksana proposal pertama dalam Hyperliquid Improvement Proposal (HIP) untuk USDH. Dalam waktu dekat, Native Markets juga akan merilis token ERC-20 yang kompatibel dengan jaringan Ethereum.

“Setelah itu, kami akan memulai fase uji coba mint dan redeem hingga US$800 per transaksi untuk kelompok awal. Selanjutnya, kami akan membuka order book spot USDH/USDC, sebelum akhirnya menerapkan mint dan redeem tanpa batasan,” tulis Fiege.

Dominasi Native Markets semakin tak terbendung sejak Sabtu, dengan peluang kemenangan mencapai lebih dari 99% di Polymarket. Momentum ini kian menguat setelah pesaing terkuatnya, Ethena—penerbit stablecoin sintesis USDe—memutuskan mundur dari persaingan pekan lalu. Proposal lain, seperti Paxos Labs, hanya mampu meraih 20,73% suara, sementara validator unassigned mengantongi 4,40% suara.

Kontroversi Proses Voting

Meski hasil voting sudah resmi diumumkan, prosesnya menuai kritik dari komunitas kripto. Banyak pihak menilai mekanisme tersebut kurang transparan dan cenderung berpihak pada Native Markets.

Managing Partner Dragonfly, Haseeb Qureshi, bahkan menyebut hasil voting itu hanya sebatas “formalitas”. Menurutnya, sejumlah peserta mengaku validator tidak pernah benar-benar mempertimbangkan kandidat selain Native Markets.

“Seakan-akan sudah ada kesepakatan di balik layar,” ungkapnya.

Sementara itu, CEO RPC Helius, Mert Mumtaz, menilai persaingan ini menunjukkan bahwa stablecoin kini lebih mirip komoditas ketimbang inovasi finansial. Ia bahkan berspekulasi bahwa di masa depan ticker stablecoin berbasis dolar AS akan hilang dari tampilan depan exchange. Sebagai gantinya, pengguna hanya akan melihat label generik “USD”, sementara sistem exchange otomatis menangani pertukaran antar-stablecoin di belakang layar tanpa campur tangan pengguna.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *